PILIH PNS ATAU WIRAUSAHAWAN
Oleh. Boy Nashruddin Agus
Banyak lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), menganggur pasca menyelesaikan studynya. Berburu peluang menjadi pegawai negeri, salah satu penyebabnya. Jika tak lewat, mereka memilih menganggur sampai dibuka kembali formasi pekerjaan “keramat” itu.
Jalan hitam hari itu, memancarkan hawa panas. Debu berterbangan dan asap dari kendaraan bermotor mengepul menambah polusi udara. Syahrul Ramadhan (26), baru saja menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Swasta Jurusan Ilmu Ekonomi Perbankan. Wajahnya, kelihatan kelelahan. Peluh telah membasahi baju kemejanya yang tak lagi menampakkan kerapian.
Di sisi kanan sepeda motornya, tergantung seberkas surat dan arsip penting. Sesekali, ia memperhatikan arsip-arsip tersebut seraya menghela napas panjang. Sementara itu, disaku celananya, terlihat beberapa lembar koran yang memuat halaman iklan.
“Sudah satu bulan saya cari kerja bang. Belum dapat-dapat. Padahal saya lulusan sarjana,” keluhnya, ketika mangkir di sudut salah satu warung kopi di Pasar Aceh.
Berbagai lowongan kerja yang tercantum di kolom iklan tersebut, telah diujinya. Tentu saja, kerja yang diharapkan sesuai dengan ilmu Syahrul selama ini. Seorang akuntan perbankan. Sayangnya, pemuda tersebut kelihatan kurang beruntung untuk hal ini.
Berbicara keahlian, selain mampu menghafal berbagai ilmu manajemen dan akuntansi, Syahrul menyerah. Padahal, untuk lulusannya ini selain mementingkan basic ilmu tersebut, juga diperlukan ketrampilan dalam mengolah komputer. Sekali lagi, sayang, laki-laki berwajah tampan ini hanya bisa pasrah. “Komputer hanya bisa sekedarnya,” ungkapnya, lemah.
Sementara itu, keahlian tangan pun sama sekali tak pernah ia tekuni. Akan tetapi, ia mempunyai wawasan luas mengenai utak atik handpone. Segala jenis merk hp, mampu ia kuasai. Tak hanya itu, aplikasi dan piranti lunaknya pun ia ketahui. Pun begitu, Syahrul geleng-geleng kepala ketika ditanyakan kenapa ia tak membuka usaha dagang dan menjadi teknisi alat komunikasi itu. “Ijazah saya mau dikemanakan bang?” sanggahnya.
Lain halnya dengan Maksalmina(22). Laki-laki yang berusia jauh dibawah Syahrul. Sebagai perantauan, Maksalmina telah mampu mengembangkan usahanya di bidang kerajinan rotan. Jika diselidiki, Maksalmina pernah mengenyam pendidikan Diploma di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Aceh, jurusan Pendidikan. Sebagai pekerja ulet, ia lebih memilih membuka usaha sendiri, ketimbang harus mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alhasil, laki-laki dari Aceh Timur ini berhasil menjadi salah satu toke muda dan mampu membuka lapangan kerja baru untuk teman-temannya.
“Lebih enak seperti ini. Daripada susah-susah ikut PNS, belum tentu bisa berhasil dan sukses,” tuturnya, sumringah.
Ada yang lebih seru. Sebut saja namanya Rika. Gadis yang sudah waktunya menikah ini, urung naik ke pelaminan hanya dikarenakan syarat-syarat yang diterapkan orang tuanya. Pasalnya, ia diharapkan bisa menadatangkan mantu dari kalangan pegawai negeri. “Pokoknya bawa yang seragam,” seru gadis ini, menirukan ucapan kedua orang tuanya. “Maksudnya pegawai bang. Bukan macam abang,” tambahnya lagi.
Cerita diatas, merupakan ilustrasi dari kehidupan yang ada di kota Banda Aceh saat ini. Meskipun tak persis sama, namun beberapa kejadian serupa kerap dialami oleh masyarakat kita yang mengagung-agungkan pegawai sebagai target dari semua pekerjaan.
Konon, menjelang bubarnya lembaga pemegang dana pembangunan tsunami terbesar, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, jumlah pengangguran semakin meningkat. Sementara itu, formasi PNS yang menjadi incaran rata-rata masyarakat kota Banda Aceh, semakin sempit saja.
Seperti halnya Syahrul. Pria tersebut sangat mengharapkan mampu diterima menjadi pegawai negeri dengan modal ijazah S1-nya. Banyak lulusan sarjana, mengharapkan bisa menjadi pegawai negeri, buruh di pabrik sawasta atau karyawan perusahaan menjadikan tingkat pengangguran sepanjang tahun, terus mengalami kenaikan drastis.
Padahal, lapangan kerja yang ada semakin sempit setelah banyaknya NGO, hengkang kaki dari Aceh. Harapan satu-satunya, Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yang saban hari, semakin memperkecil jumlah formasinya. Belum lagi, dalam setahun saja, lulusan sarjana di Aceh mampu mencapai jumlah ribuan orang. Persaingan semakin ketat! Keuntungan hanya ada di Dinas Tenaga Kerja. Uang masuk, bagi para calon pencari kerja yang memaksakan diri membuat kartu kuning tanda masih menganggur.
Dalam kata-kata sambutannya, Prof. Dr. Darni M. Daud, selaku Rektor Unsyiah telah berulangkali menyarankan kepada para lulusan untuk mengembangkan skill nya. Menghadapi arus globalisasi dan perdagangan bebas, lapangan kerja yang ada pun semakin sempit. Karenanya, keahlian tangan serta kepribadian mandiri sangat diperlukan dalam menghadapi hidup setelah mencapai gelar sarjana. Sebuah wejangan yang sangat membangun. Walaupun itu dikemukakan setelah para lulusan menghabiskan masa kuliahnya bertahun-tahun di Universitas tersebut. Toh yang namanya hidup. Terus saja berjalan.
Bagi yang mempunyai rekanan, famili dan anak dari teman kakek yang telah berhasil menjadi salah satu pejabat negara. Mungkin saja, peluang kerja yang ada itu besar. Belum lagi mempunyai segepok uang dalam brankas di rumah atau di Bank Pemerintah. Tahu Sama Tahu lah!
Syahdan bagi orang-orang kere atau mereka yang hidupnya telah menghabiskan uang warisan untuk studinya. Jangankan membuka usaha, untuk makan saja harus ngutang. Harapan terakhir sekali lagi pegawai negeri. Dus…
Hendarman, Direktur Pendidikan Tinggi Nasional di Jakarta, seperti dilansir salah satu media nasional mengatakan dari data pengangguran terdidik Indonesia menunjukkan seseorang, semakin rendah kemandiriannya dan semangat kewirausahaannya. Gengsi dong pak.
Karenanya, sangat diharapkan seluruh PTN dan PTS menyiapkan mahasiswanya untuk mandiri, tidak lagi terfokus menjadi pencari kerja. Solusinya, pendidikan kewirausahaan yang nanti akan diterapkan kepada 1.500 dosen dari seluruh Indonesia tahun depan. Melalui dosen-dosen tersebut, mahasiswa akan diberikan wawasan luas dalam membentuk kepribadian mandiri. Itu kata Hendarman.
Lebih dari 50 persen pengangguran berasal dari lulusan sarjana jika dibandingkan dengan pengangguran lulusan diploma I/II dan akademi/diploma III. Sementara itu, lebih dari 80 persen sarjana memilih bekerja sebagai buruh atau karyawan dan hanya sekitar 6 persen yang bekerja sendiri. Ini data dari Badan Pusat Statistik, menurut jenjang pendidikan tinggi selama 2004-2007.
Kononnya lagi, pemerintah akan mengalokasikan dana untuk pendidikan kewirausahaan masing-masing Rp 1 milyar untuk 12 kopertis dan masing-masing Rp 500 juta untuk 26 politeknik negeri. Sayangnya, Unsyiah dan IAIN Ar-Ranirry tidak tercantum dalam penerimaan bantuan tersebut, apalagi perguran tinggi swasta lainnya di Aceh. Tanya kenapa?
Padahal, masing-masing perguruan tinggi itu mendapat anggaran Rp 2 milyar. Banyak juga kan? Bagaimana dengan Aceh? Coba kita tanya solusinya sama-sama kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh atau langsung kepada Pemerintah Aceh, dalam hal ini dinas pendidikan. Tapi, bagusnya langsung kepada Dikti saja. Kan disana yang berwenang. Kalau Dinas Pendidikan Aceh, katanya lagi kena masalah.
Tapi, kalau hanya motivasi kemadirian tersebut diberikan kepada mahasiswa saja, bagaimana dengan reaksi keluarga mereka? Budaya di Aceh, seorang lulusan sarjana, atau tingkat akademik lain salah satu yang dikatakan berhasil adalah mereka yang mampu menjadi PNS. Padahal, jika dikaji-kaji, PNS banyak yang hidupnya kurang memuaskan. Namun, itulah yang menjadi pola pikir masyarakat Aceh sekarang, terutama mereka-mereka yang sudah merasakan pahit manisnya kehidupan.
Bahkan, ada beberapa keluarga yang mengijinkan anak perempuannya menikah hanya dengan pegawai. Gila kan? Prinsipnya seperti ini, jika pegawai, menurut mereka hidup akan terjamin. Masa tua tenang. Pensiunan jalan terus.
Sayangnya, wacana terakhir yang sempat dilontarkan oleh Mendagri, untuk pegawai negeri akan diteliti ulang mengenai pemberian dana pensiun. Hal ini disebabkan banyak sekali uang negara yang harus dikeluarkan kepada para pensiunan tersebut. Padahal, mereka tidak lagi tercatat sebagai pekerja. Karenanya, APBN menjadi semakin membengkak dan lowongan pegawai menjadi diciutkan. Alasannya negara mengalami kerugian dan perlu adanya pemangkasan belanja non phisik. Tuh kan.
Bagi mereka yang sadar, sudah sedari sekarang menyiapkan diri membentuk jati diri yang mandiri. Pedagang lulusan sarjana, sudah mulai berkeliaran. Sarjana yang menciptakan lapangan kerja baru, masih minim sih. Tapi sudah mulai mencoba-coba. Ini Aceh bung!. Lagi-lagi kita harus melihat kondisi perekonomian dan jaminan keamanan daerah. Siapa juga mau rugi, kalau daerahnya rawan konflik?
Setelah penandatanganan MoU damai di Helsinky, beberapa tahun silam. Potensi perkembangan dan dibukanya lapangan kerja baru, bertambah di Aceh. Banyak pabrik-pabrik industri, kembali diaktifkan. Walaupun kemudian, tutup lagi karena permasalahan bahan baku dan faktor keuntungan bagi daerah. Imbasnya, para karyawan menjadi terkatung-katung. Masa depan belum tentu cerah. Pun begitu, banyak investor-investor baru, melirik Aceh. Terutama dibidang perdagangan. Karenanya, menjadi pegawai untuk daerah yang sangat terbuka bagi pihak asing, merupakan cerita lama bung.
Sebagai negara yang pernah menjadi macan Asia, kata orang kampung sebelah. Indonesia pernah dikenal sebagai negara penghasil padi terbesar di benua ini. karenanya, kita patut bangga pada profesi petani. Kemudian dilihat dari kondisi geografis, Aceh juga merupakan wilayah maritim yang letaknya sangat strategis. Mengungkap kehebatan tersebut, bukan berarti saya mau mengajak kita kembali ke sawah atau berlayar mencari ikan. Tapi, potensi dalam mencari penemuan-penemuan baru di bidang tersebut, merupakan anjuran. Kemudian, mengasah teknik pekerjaan tangan. Apa yang bisa kita lakukan dengan hasil alam yang melimpah tersebut?
Pernah mendengar cerita seorang warga ibukota Jakarta yang bisa mengembangkan dan mendaur ulang sampah menjadi lebih bermanfaat? Atau, kreatifitas orang luar negeri yang menjadikan seni sebagai mata pencaharian utama? Bagaimana dengan kita orang Aceh?
Saatnya, generasi lulusan sarjana baru mengembangkan pola pikir sebagai wirausahawan sejati. Kata teman saya, jadikan pegawai negeri itu sebagai lapangan kerja terakhir. Kalau anda memiliki skill, kenapa tidak mencoba membuka lapangan kerja baru. Tentunya, modal juga harus dipersiapkan. Orang yang berani mencoba untuk gagal, adalah orang yang berani mencapai kesuksesan.
Menjadi pegawai, karyawan dan buruh bukanlah suatu motivasi membentuk kepribadian yang ulet. Menghadapi zaman yang semakin canggih, dimana-mana mesin menjadi pekerja, bukan tidak mungkin jumlah pengangguran akan mencapai tingkat mengenaskan. Apalagi Aceh. Negeri yang baru saja menghadapi bencana kemudian masuknya orang-orang luar. Dengan ditambah adanya perdamaian, bukan tidak mungkin akan banyak investor-investor asing melirik wirausahawan lokal dalam mengembangkan perekonomian daerah.
Jika dulu ada yang katakan, pegawai merupakan surga para pencari kerja. Maka jadikan wirausaha sebagai wujud kemandirian dalam menempuh kehidupan untuk sekarang. Berani???[]
Penulis merupakan pemerhati masalah sosial dan budaya. Saat ini berdomisili di Kota Banda Aceh.


