Independen Banda Aceh
Pembangunan Mushalla Al Muhajirin, Dusun Lamnyong, Rukoh, Darussalam diduga bermasalah. Sudah dua tahun pembangunan mushalla di samping Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Lamnyong itu ditengarai bermasalah.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat mengatakan pembangunan rumah ibadah itu terkesan sengaja diperlambat dan sama sekali tidak ada Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dari panitia pembangunan. “Dana dari BRR pada tahun 2006 sebesar Rp60 juta sampai sekarang belum di pertanggung jawabkan,” ungkapnya.
Hal itu dibenarkan oleh mantan Kepala Desa (Kades) Rukoh, Hamdani Hasyim. Ia menyesalkan belum adanya LPJ dari panitia pembangunan. “Ketika saya masih menjabat sebagai Kepala Desa, pernah saya panggil panitia untuk memberikan LPJ kepada pihak desa. Dalam proses pembangunan tersebut, banyak juga masyarakat Dusun Lamnyong yang mengatakan kepada saya bahwa kepanitiaan pembangunan Mesjid, hanya dikelola oleh Ketua saja, dalam hal ini Ir. Djarimin,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, pengelolaan proyek pembangunan semuanya di ambil alih oleh Djarimin, bahkan, tambahnya, Bendahara Panitia pun sama sekali tidak mengetahui seberapa besar uang yang diterima dan dikeluarkan untuk pembangunan Mushalla tersebut.
Ia merincikan Rp60 juta bantuan diberikan Satker Keagamaan, Sosial dan Budaya BRR Aceh-Nias, untuk pembiayaan pembangunan Mushalla Al Muhajirin tersebut. Pada periode awal penyaluran, Maret 2006, mushalla tersebut mendapat dana masuk sebesar Rp20 juta, melalui dua tahap.
Selanjutnya, pihak panitia pembangunan mushalla Al Muhajirin juga mendapat anggaran kembali dari Satker yang sama sebanyak Rp40 juta, dengan catatan tanggal penyelesaian penerimaan 26 Oktober 2006, atas nama Ir. Djarimin Ismail.
Penyaluran anggaran rehabilitasi dan pembangunan mushalla tersebut dicairkan melalui rekening Bank BRI Unit T. Nyak Arief, a.n Mushalla Al-Muhajirin, dengan nomor rekening 33-21-8498 (sumber : Satker Agama, Sosial dan Budaya BRR Aceh-Nias).
Selain itu, dana pembangunan mushalla tersebut juga disumbangkan oleh masyarakat secara swadaya. “Total keseluruhan dana pembangunan Mushalla Al Muhajirin mencapai Rp90 juta, bantuan dari BRR dan swadaya masyarakat,” tambah Hamdani.
Jumlah dana puluhan juta tersebut, diakui Hamdani sama sekali tidak ada pemberitahuan kepada pihak aparatur desa dan masyarakat Rukoh. “Bendahara panitia sama sekali tidak diaktifkan, sedangkan keseluruhan kinerja hanya di jalankan oleh Pak Jarimin yang kini menjabat Kepala Desa Rukoh,” lanjutnya.
Tapi hal itu dibantah Bustamam Husein, pembantu Bendahara Pembangunan Mushalla Al Muhajirin. Katanya, itu sengaja dihembus pihak yang tidak senang Djarimin menjadi Kepala Desa. “Siapa bilang LPJ nggak pernah dibuat. Buktinya saya ada LPJ-nya yang diberikan Pak Djarimin kepada masyarakat beberapa waktu lalu di Mushalla. Mungkin yang bersangkutan tidak hadir, sehingga mengatakan tidak ada LPJ pembangunan mushalla tersebut,” bantahnya.
Meski demikian, Bustamam mengaku tidak tahu apakah LPJ itu diterima atau tidak oleh masyarakat setempat. “Saya tidak mau dilibatkan dalam masalah ini, saya tidak suka berurusan dengan masalah keuangan,” lanjutnya.
Sementara itu, Samsuir, bilal di Mushalla itu mengakui adanya ketidak jelasan penggunaan dana pembangunan mushalla. “Semua urusan keuangan hanya diketahui oleh Pak Djarimin, saya hanya membersihkan mushalla saja,” katanya. Sayangnya sampai berita ini diturunkan Djarimin menolak berkomentar. [boy]
Note :
Berita tersebut diatas, menuai kontroversi dari masyarakat setempat. Bahkan ada beberapa orang yang mencoba mengklarifikasi kembali pernyataannya kepada Independen dan mengecam tulisan itu.
Bahkan, orang yang diberitakan, merasa pemberitaan ini telah mencemarkan nama baiknya. Djarimin, selaku ketua panitia pembangunan Mushalla Al Muhajirin tersebut, telah melayangkan surat pengaduan pencemaran nama baik ke kantor Polisi Sektor Syiah Kuala, Banda Aceh.
Kesalahan peng-editan: Sementara itu, Samsuir, bilal di Mushalla itu mengakui adanya ketidak jelasan penggunaan dana pembangunan mushalla. “Semua urusan keuangan hanya diketahui oleh Pak Djarimin, saya hanya membersihkan mushalla saja,” katanya. Sayangnya sampai berita ini diturunkan Djarimin menolak berkomentar.
Seharusnya : Sementara itu, Samsuir, bilal di Mushalla itu tidak tahu menahu, mengenai permasalahan pengelolaan dana pembangunan mushalla. “Semua urusan keuangan hanya diketahui oleh Pak Djarimin, saya hanya membersihkan mushalla saja,” katanya. Sayangnya sampai berita ini diturunkan Djarimin tidak dapat dijumpai guna dimintai komentarnya akan berita tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)

