Pria berkaca mata hitam itu hilir mudik. Sesekali ia membetulkan letak topi pet-nya yang lusuh. Ia begitu sibuk diatara
Janggut dan kumis tebal membuat tampilannya tampak sangar. “Itu Teungku
Di negeri itu pula ia mengikuti latihan perang, hingga akhirnya memanggul senjata sebagai tentara nanggroe alias TNA, sayap militernya GAM. Tak tanggung-tanggung 13 tahun di
Ia menyebut senjata yang diselundupkannya itu dengan istilah teukok u (pelepah kelapa kering-red). Ia mendapatkannya setelah melakukan barter dengan sarang wallet. “Saya hanya juru jalan, semua itu saya lakukan demi perjuangan,” katanya merendah. Meski tersenyum ia masih terlihat sangar.
Menyelundupkan senjata untuk perjuangan baginya itu cerita lama. Selasa (16/4) kemarin, ia menjadi pengatur
Namun, sebuah sapa cukup untuk menghilangkan kesan sangarnya itu. Ia bisa terharu bahkan menangis ketika berbicara tentang nasib
Sesaat ia terdiam. Setelah menghembus nafas pelan ia berkata. “Bagi saya berkorban untuk rakyat lebih mulia dari pada menikmati hasil perdamaian.” Kali ini ia tidak bisa menahan air matanya. “Kini saatnya saya membalas jasa rakyat yang telah menyelamatkan saya, melindungi saya, mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan,” lanjut pria yang menguasai empat bahasa asing ini.
Pria yang mampu berbicara dalam bahasa
Dengan kemampuan berbahasa asing, sebenarnya dengan mudah ia bisa menjadi penerjemah di beberapa NGO internasional. Namun semua itu ditampiknya. “Keuntungan pribadi bukanlah tujuan hidup saya,” katanya datar.
Diakhir obrolan ia berujar, “phom krab chong bacacun kwanrum twha bacacon tang mond. Melihat orang-orang sekelilingnya bingung, ia pun mengartikan maksud dari bahasa Tagalog itu, “Aku berjuang untuk rakyat ku yang teraniaya,” jelasnya [Iskandar Norman/Boy Nashruddin Agus]

