Friday, December 28, 2007

Apa Itu Tsunami ?

Tsunami berasal dari kata :
Tsu = Pelabuhan
Nami = Gelombang
Menjadi bagian bahasa dunia, setelah gempa besar 15 Juni 1896, yang menimbulkan tsunami besar melanda kota pelabuhan Sanriku (JEPANG) dan menewaskan 270.000 orang serta merusak pantai barat Honshu sepanjang 280 km.

Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempabumi , tanah longsor atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 m atau lebih. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.

Berdasarkan Katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempabumi tektonik.




Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba 1977).Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.

Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah :
  1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
  2. Bau asin yang sangat menyengat.
  3. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.

Tsunami terjadi jika :

  • Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR
  • Lokasi pusat gempa di laut
  • Kedalaman dangkal <>
  • Terjadi deformasi vertikal dasar laut





Potensi Tsunami di Indonesia :

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta Timur Kalimantan
Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempabumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit

Tuesday, December 18, 2007

NASIB OEMAR BAKRY DI KOETA RADJA

Sorot matanya kabur, nanar melihat cahaya matahari. Dahinya terlalu banyak kerutan, menandakan usianya tak lagi muda. Gerakan tangannya, pelan tapi pasti. Itulah ciri khas Dra. Rohani, salah satu guru yang kini berusaha untuk tetap mengajar demi segenggam beras yang mengisi perut selama sebulan kedepan. Akan tetapi, siang itu, ia tak sedang mengajar melainkan menjajakan kue di pelataran kantin Sekolah Dasar Negeri 98 Banda Aceh.

“Untuk menambah tuntutan hidup,” jawabnya singkat menanggapi rutinitasnya tersebut.

Cerita di atas hanya sebuah ilustrasi saja mengenai kondisi kehidupan tenaga pengajar alias guru di Nanggroe Aceh Darussalam. Meskipun sudah menerima status sebagai pegawai negeri sipil, tetapi keadaan perekonomian guru masih saja di bawah standar pegawai negeri umumnya.

Menyikapi hal tersebut, banyak orang memandang miris terhadap profesi guru, meskipun tak sedikit yang memandang guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, walaupun mayoritas masyarakat Indonesia dan khususnya Aceh, enggan memperjuangkan nasib guru kea rah lebih baik.

Dalam pertemuan perencanaan rancangan qanun yang digelar oleh Gerak, November lalu di kantor DPRA, Husny Bantasyam (Sekretaris KOBAR-GB NAD) ikut menetapkan bahwa kesejahteraan guru adalah hal terpenting yang harus diperhatikan dalam penyusunan Qanun ke depan.

“Kita melihat banyak guru yang bekerja sampingan untuk menutup beban hidupnya. Seharusnya itu tak boleh terjadi karena guru harus berkonsentrasi penuh dalam mata pelajarannya demi meningkatkan mutu pendidikan di Aceh,” tegasnya kepada forum.

Dalam kesempatan lain, ketika ditemui Mediasi (4/12) di kantor Kobar-GB NAD, Husniaty juga mengatakan bahwa meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya dengan pengalokasian dana saja. Terlebih dana yang dianggarkan hanya berfokus pada pembangunan fasilitas pendidikan.

“Pemerintah lebih mengutamakan peningkatan fasilitas infrastruktur dibandingkan peningkatan kesejahteraan guru. Lihat saja, sekarang ini banyak gedung-gedung sekolah yang fasilitasnya sudah sangat memuaskan tapi nasib guru sama sekali belum diperhatikan dengan serius,” tambahnya.

Husniaty menganjurkan kepada pemerintah agar kesemua guru di Banda Aceh itu diberikan tunjangan khusus (TC) di atas satu juta rupiah dengan perbandingan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekarang yang mencapai Rp. 33,51 milyar.

“Maunya, setelah PAD kota bertambah sebanyak empat kali lipat, yaitu sebesar 33,51 milyar, tunjangan guru bisa ditambah. Bapak Razali Yusuf, mantan Pj. Walikota Banda Aceh saja berani memberikan TC guru sebesar Rp 300 ribu dengan jumlah PAD waktu itu hanya berkisar Rp. 9 milyar,” ungkapnya.

Kobar GB yakin, dengan penambahan jumlah TC kepada guru-guru diatas satu juta rupiah mampu meningkatkan mutu pendidikan meskipun tak mampu memberikan jaminan yang pasti.

Sementara itu, dana pendidikan Aceh yang ditetapkan dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (RAPBA) 2008 mencapai Rp 1,2 triliun adalah sebuah harapan bagi guru dalam meningkatkan kesejahteraannya demi mutu pendidikan bangsa nantinya.

Rohani, yang kini telah menutup matanya mungkin tak mampu menikmati TC seperti yang dianjurkan oleh Husniaty dan dana pendidikan sebanyak Rp 1,2 triliun yang akan ditetapkan untuk tahun 2008 mendatang. Akan tetapi akan ada Rohani-rohani lain yang berprofesi sebagai cekgu, yang menikmati nantinya apabila pemerintah serius memerhatikan kesejahteraan guru.

Keseriusan pemerintah setidaknya mampu mengubah balada seorang maestro terkenal Indonesia, Iwan Fals mengenai nasib guru. Jangan lagi Oemar Bakry naik sepeda kumbang, pintanya.(Boy)