
Udara hari itu begitu panas, namun angin sepoi-sepoi tetap menghembus di sela-sela dedaunan. Sementara itu, sekumpulan orang terlihat keluar dari sebuah ruangan bedah pria dengan mendorong sebuah bangsal pesakitan. Raut wajah mereka terlihat sedih, maklum saja pada saat itu ada yang baru menghembuskan nafas terakhir.
“Innalillahi wa innalillahi raji’un,” serempak orang-orang yang melihat, mengucapkan kalimat ini. Begitulah suasana keseharian di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.
Bagaikan sebuah cerita yang bersambung, Rumah Sakit Zainal Abidin yang seharusnya menjadi rumah sakit kebanggan masyarakat Aceh, harus jatuh bangun dalam melayani pasiennya. Sebuah kasus yang terjadi pada tanggal 22 Januari 2007, misalnya. Ketika itu, Saribanun (38th) penderita tumor rahim, Wardiah penderita tumor mulut, Samsunar (34th), penderita gangguan THT dan Hasbi penderita batu ginjal, mempunyai cerita menarik mengenai proses operasi yang dilakukan di Rumah Sakit tersebut.
Keempat pasien itu, terbaring lemah tak berdaya karena sudah dibius oleh para dokter guna menjalankan operasi bedah. Namun ketika itu, tiba-tiba listrik mati. Menariknya, dr. Dahril yang menangani operasi salah satu pasien yang bernama Hasbi, mengaku telah memegang ginjal, dengan kata lain perutnya sudah dibedah. Akan tetapi tepat pada saat itu, listrik pun padam. “Ginjalnya sudah saya pegang, sedang menuju proses pengeluaran batu. Tapi listrik mati dan saya membatalkan operasi itu,” kata Dahril, seperti yang dilansir oleh salah satu media Serambi Indonesia edisi 23 Januari 2007.
Ironinya, kasus yang dipandang sangat urgen ini, sampai sekarang belum juga tertuntaskan. Menurut Kabag. HUMAS RSUZA kepada Mediasi, Tarmizi (13/8) mengatakan bahwa pengadaan genseit tersebut sedang dalam proses. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa semua itu sudah di limpahkan kepada pihak keuangan Kantor Gubernur NAD untuk di sahkan anggarannya.
Selain kasus padamnya listrik ketika pasien di operasi gara-gara genseit yang rusak, banyak pengguna layanan RSUZA masih merasakan kurangnya pelayanan yang diberikan oleh pihak pelayan kesehatan tersebut. “Saya sendiri secara pribadi merasa sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Kalau begini terus pelayanannya, pasien yang dirawat di sini bukan jadi sembuh, tapi malah jadi tambah parah,” kata Ishak Kasem yang juga Ketua Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) di DPRD NAD, mengeluhkan pengalaman pribadinya pada wartawan.
Pengalaman yang dirasakan oleh Ishak Kasem juga diderita oleh Halimah, 50th. Wanita tersebut sangat kesal dengan sistem pelayanan yang diberikan di RSUZA. Adiknya yang sebenarnya sudah harus dioperasi semenjak satu bulan lalu, sampai saat ini belum juga dilakukan oleh dokter.
“Sudah satu bulan saya di sini menemani adik saya yang katanya mau dioperasi. Tapi sampai sekarang belum juga terlaksana,” ujar wanita tersebut kepada pengunjung pasien lainnya dan pada Mediasi di ruang rawat bedah pria RSUZA.
Seorang pasien lainnya yang juga dirawat di ruang bedah pria tersebut, mengeluhkan bahwa ianya, kurang diperhatikan oleh dokter. Sudah satu minggu ini, beliau dirawat namun dokter yang menangani hanya dua kali menjenguk, sedangkan lainnya ditangani oleh perawat.
Sementara itu, Kepala BPK RSUZA Banda Aceh, dr. Rus Munandar juga mengakui kalau pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit yang dipimpinnya itu kepada masyarakat masih kurang memuaskan.
“Memang ini harus kita akui, karena pelayanan itu belum memuaskan semua pihak. Tapi inikan proses, jadi kita terus mencoba segala macam cara untuk meningkatkan pelayanan. Jadi mulai dari sistem kita perbaiki, sumber daya manusia (SDM) kita perbaiki dan fasilitas lainnya. Pertemuan rapat dengar pendapat dengan dewan seperti ini sangat bagus sekali sebagai masukan. Jadi, nanti kalau kita ajukan usulan, mudah-mudahan pihak DPRD NAD, bisa memahami inilah rasionalisasinya yang ada. Jadi nanti, kalau tidak ada bantuan DPRD, saya kira akan susah sekali,” ujarnya.
Guna mengantisipasi kurangnya pelayanan yang dirasakan oleh pihak pasien selama di rumah sakit, Tarmizi mengatakan bahwa pihaknya bersama Kepala RSUZA telah mencoba melakukan pembenahan terhadap sistem pelayanan. Sedangkan untuk pasien dan keluarga yang merasa kurang diperhatikan, tambahnya lagi, agar dapat mengisi kotak saran/pengaduan yang sudah tersebar di seluruh ruangan yang ada di RSUZA.
Dalam acara coffe morning yang diadakan oleh Irwandi Yusuf, Gubernur NAD saat menjamu wartawan, selasa (14/8), mengatakan bahwa manajemen rumah sakit itu sedang “sakit”. “Selama ini, RSU Zainal Abidin bukan menyembuhkan orang sakit melainkan membuat orang tambah sakit karena berobat di situ,” tambahnya lagi. Lebih lanjut, Gubernur Aceh tersebut menegaskan bahwa sebelum ramadhan ini akan melakukan perombakan manajemen rumah sakit guna meningkatnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Innalillahi wa innalillahi raji’un,” serempak orang-orang yang melihat, mengucapkan kalimat ini. Begitulah suasana keseharian di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.
Bagaikan sebuah cerita yang bersambung, Rumah Sakit Zainal Abidin yang seharusnya menjadi rumah sakit kebanggan masyarakat Aceh, harus jatuh bangun dalam melayani pasiennya. Sebuah kasus yang terjadi pada tanggal 22 Januari 2007, misalnya. Ketika itu, Saribanun (38th) penderita tumor rahim, Wardiah penderita tumor mulut, Samsunar (34th), penderita gangguan THT dan Hasbi penderita batu ginjal, mempunyai cerita menarik mengenai proses operasi yang dilakukan di Rumah Sakit tersebut.
Keempat pasien itu, terbaring lemah tak berdaya karena sudah dibius oleh para dokter guna menjalankan operasi bedah. Namun ketika itu, tiba-tiba listrik mati. Menariknya, dr. Dahril yang menangani operasi salah satu pasien yang bernama Hasbi, mengaku telah memegang ginjal, dengan kata lain perutnya sudah dibedah. Akan tetapi tepat pada saat itu, listrik pun padam. “Ginjalnya sudah saya pegang, sedang menuju proses pengeluaran batu. Tapi listrik mati dan saya membatalkan operasi itu,” kata Dahril, seperti yang dilansir oleh salah satu media Serambi Indonesia edisi 23 Januari 2007.
Ironinya, kasus yang dipandang sangat urgen ini, sampai sekarang belum juga tertuntaskan. Menurut Kabag. HUMAS RSUZA kepada Mediasi, Tarmizi (13/8) mengatakan bahwa pengadaan genseit tersebut sedang dalam proses. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa semua itu sudah di limpahkan kepada pihak keuangan Kantor Gubernur NAD untuk di sahkan anggarannya.
Selain kasus padamnya listrik ketika pasien di operasi gara-gara genseit yang rusak, banyak pengguna layanan RSUZA masih merasakan kurangnya pelayanan yang diberikan oleh pihak pelayan kesehatan tersebut. “Saya sendiri secara pribadi merasa sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Kalau begini terus pelayanannya, pasien yang dirawat di sini bukan jadi sembuh, tapi malah jadi tambah parah,” kata Ishak Kasem yang juga Ketua Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) di DPRD NAD, mengeluhkan pengalaman pribadinya pada wartawan.
Pengalaman yang dirasakan oleh Ishak Kasem juga diderita oleh Halimah, 50th. Wanita tersebut sangat kesal dengan sistem pelayanan yang diberikan di RSUZA. Adiknya yang sebenarnya sudah harus dioperasi semenjak satu bulan lalu, sampai saat ini belum juga dilakukan oleh dokter.
“Sudah satu bulan saya di sini menemani adik saya yang katanya mau dioperasi. Tapi sampai sekarang belum juga terlaksana,” ujar wanita tersebut kepada pengunjung pasien lainnya dan pada Mediasi di ruang rawat bedah pria RSUZA.
Seorang pasien lainnya yang juga dirawat di ruang bedah pria tersebut, mengeluhkan bahwa ianya, kurang diperhatikan oleh dokter. Sudah satu minggu ini, beliau dirawat namun dokter yang menangani hanya dua kali menjenguk, sedangkan lainnya ditangani oleh perawat.
Sementara itu, Kepala BPK RSUZA Banda Aceh, dr. Rus Munandar juga mengakui kalau pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit yang dipimpinnya itu kepada masyarakat masih kurang memuaskan.
“Memang ini harus kita akui, karena pelayanan itu belum memuaskan semua pihak. Tapi inikan proses, jadi kita terus mencoba segala macam cara untuk meningkatkan pelayanan. Jadi mulai dari sistem kita perbaiki, sumber daya manusia (SDM) kita perbaiki dan fasilitas lainnya. Pertemuan rapat dengar pendapat dengan dewan seperti ini sangat bagus sekali sebagai masukan. Jadi, nanti kalau kita ajukan usulan, mudah-mudahan pihak DPRD NAD, bisa memahami inilah rasionalisasinya yang ada. Jadi nanti, kalau tidak ada bantuan DPRD, saya kira akan susah sekali,” ujarnya.
Guna mengantisipasi kurangnya pelayanan yang dirasakan oleh pihak pasien selama di rumah sakit, Tarmizi mengatakan bahwa pihaknya bersama Kepala RSUZA telah mencoba melakukan pembenahan terhadap sistem pelayanan. Sedangkan untuk pasien dan keluarga yang merasa kurang diperhatikan, tambahnya lagi, agar dapat mengisi kotak saran/pengaduan yang sudah tersebar di seluruh ruangan yang ada di RSUZA.
Dalam acara coffe morning yang diadakan oleh Irwandi Yusuf, Gubernur NAD saat menjamu wartawan, selasa (14/8), mengatakan bahwa manajemen rumah sakit itu sedang “sakit”. “Selama ini, RSU Zainal Abidin bukan menyembuhkan orang sakit melainkan membuat orang tambah sakit karena berobat di situ,” tambahnya lagi. Lebih lanjut, Gubernur Aceh tersebut menegaskan bahwa sebelum ramadhan ini akan melakukan perombakan manajemen rumah sakit guna meningkatnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

