Sunday, July 29, 2007

Bendera HIMAS dan GAM, Serupa tapi Jauh Berbeda


Raut wajah seorang laki-laki berbaju loreng terlihat serius ketika memperhatikan selembar bendera terpancang diatas atap sebuah bangunan bertingkat dua yang kian usang dimakan waktu. Warna dasarnya merah, dihiasi dengan dua buah strip atas bawah berwarna biru. Tepat di tengah-tengah bendera tersebut terpampang cap sikureung, sebuah stempel kerajaan Aceh Darussalam masa kesultanan tempo dulu.

Prajurit itu sempat kaget saat melihat bendera tersebut, berkibar diatas gedung Ruang Kuliah Umum (RKU) III yang lazim dipakai oleh mahasiswa Fakultas MIPA dan FKIP Unsyiah. Prajurit yang pada hari itu (27/7) bertugas mengamankan lokasi Unsyiah guna menyambut orang nomor dua di Indonesia dalam acara Kongres Saudagar Aceh Serantau (KSAS) bertanya sebenarnya bendera apa itu. “Kenapa mirip bendera GAM?” tanyanya pada salah seorang penjaga kantin FKIP Unsyiah.

“Oh bendera itu kepunyaan Himpunan Sejarah, salah satu organisasi mahasiswa yang ada di FKIP pak,” jawab Muhammad Nur, sang penjaga kantin.

Keterkejutan prajurit itu disambut sumringah beberapa mahasiswa, terutama mahasiswa sejarah yang telah mengibarkan bendera tersebut sudah jauh-jauh hari sebelum MoU Helsinky dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2005. Namun untuk menghargai sang penjaga keamanan, mahasiswa sejarah bersedia menurunkan bendera yang diberi nama dengan “Bendera Cap Sikeurung” itu.

“Kita menghormati sikap prajurit itu, meskipun sebenarnya bendera HIMAS jauh berbeda dengan bendera GAM. Ya demi keamanan dan ketertiban menyambut kedatangan Wapres, kita turunkan,” ujar Azwar, Sekum mahasiswa HIMAS FKIP Unsyiah.

Dilihat dari bentuk dan pencantuman dua garis strip, bendera milik Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMAS), memang sedikit mirip dengan bendera perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Akan tetapi dari warna sangat jauh berbeda. Jika bendera GAM memakai less hitam, maka bendera HIMAS memakai less berwarna biru. Warna dasarnya mungkin sama-sama merah, tapi tidak memakai bulan bintang melainkan lambang cap sikeurung.

Menurut keterangan dari Chaidir, S.Pd, mantan Sekum BEM FKIP Unsyiah tahun 2001 yang juga mantan Sekum HIMAS tersebut mengatakan ide pembuatan bendera tersebut bukan berdasarkan peniruan terhadap bendera GAM, “Kami membuat bendera itu terlebih dahulu sudah memikirkan makna filosofis dan kandungan historis yang ada di dalamnya. Dan kalau ada beberapa prajurit yang pada saat kedatangan wapres merasa bendera kami mirip dengan bendera separatis, itu sangat bodoh,” ujarnya.

Lebih lanjut ia juga menegaskan bahwa bendera yang terpancang di RKU III Unsyiah tersebut, murni bendera sebuah organisasi mahasiswa tanpa embel-embel GAM di belakangnya. “Sebaiknya orang yang berpikir bendera HIMAS mirip dengan bendera GAM harus mengkaji sejarah Aceh lebih dahulu. Cap sikeurung adalah sebuah lambang yang dipakai dalam stempel kerajaan Aceh. Sangat lucu kalau semua lambang-lambang ke-Acehan di kaitkan dengan pemberontakan,” tambahnya lagi.

T. Azhari yang juga salah satu mantan aktivis HIMAS menanggapi isu penurunan bendera tersebut. Menurutnya ide pembuatan bendera tersebut tercantum didalam AD/ART HIMAS mengenai bendera lembaga.

“Sebuah kemiripan itu banyak terjadi di dunia ini, hal yang biasa, toh HIMAS punya arti tersendiri dengan simbol-simbol warna di benderanya. Semua warna itu ada makna filosofisnya, misalnya warna biru di kaitkan dengan warna pendidikan, merah adalah lambang kejayaan dan marwah organisasi, putih melambangkan kesucian lembaga dalam mengabdi pada bangsa dan negara serta cap sikeureung melambangkan aspek kesejarahan yang tak boleh dilupakan oleh generasi penerus, terutama mahasiswa sejarah yang mempunyai dasar ilmu mengenai hal ini,” tegasnya ketika dikonfirmasi oleh wartawan.

Banyak kesalahpahaman yang terjadi selama pengibaran bendera cap sikeureung itu. Namun semua kesalah pahaman itu dapat dilogika kan oleh aktivis mahasiswa sejarah. Misalnya ketika MoU, beberapa waktu lalu. Sempat sekretariat HIMAS di gerebek oleh beberapa petugas keamanan karena disinyalir merupakan basis daripada simpatisan GAM. Akan tetapi hal tersebut dapat di kendalikan setelah diberinya penjelasan oleh beberapa mahasiswa sejarah.

Setelah penandatanganan MoU, keberadaan bendera HIMAS tidak ada yang mempermasalahkan lagi kecuali pada saat kedatangan Wapres ke Unsyiah tersebut. Menurut Azwar, semua ini hanya kesalahpahaman saja. “Seperti yang saya katakan tadi, bendera HIMAS dan GAM, Serupa tapi Jauh Berbeda” kata nya sambil menutup pembicaraan. []


Wednesday, July 4, 2007

Opini : Aneuk Nanggroe

WARTAWAN KAMPUS,

ANTARA PROFESIONALITAS DAN BELAJAR


Oleh. Boy Nashruddin Agus

Fakta menunjukkan bahwa para wartawan seringkali bukan berasal dari jurusan publistik, jurnalistik atau komunikasi. Banyak wartawan memiliki latar belakang studi yang sama sekali berbeda. Hal ini sesuai dengan pengalaman penulis yang mempunyai latar belakang studi di pendidikan sejarah (S1). Penulis juga sering menemui wartawan-wartawan muda lainnya berasal dari latar belakang yang jauh sekali dari ilmu yang berkaitan dengan kuli tinta ini. Namun itu bukanlah sebuah permasalahan besar, karena bagaimanapun jurnalistik bisa di pelajari oleh siapa saja.

Ada beberapa syarat untuk menjadi seorang wartawan, yaitu memiliki rasa keingintahuan yang besar, tidak mudah menyerah/gigih, memiliki keberanian, memiliki kecerdikan dan kecerdasan, tidak percaya begitu saja atas informasi yang diterimanya dan mau terus belajar. Dalam buku Vademenkum Wartawan : Reportase Dasar, Paraktiri menyebutkan sikap dasar yang diperlukan untuk menjadi seorang wartawan “bukan pertama-tama karena kecantikan dan kegagahan, bukan keluwesan bergaul, bukanlah rasa ingin tahu, bukan juga pengetahuan luas dan dalam melainkan ketekunan, kegigihan dan vitalitas.

Menekuni profesi sebagai wartawan, baiknya dilakukan pada saat umur dibawah 25 tahun. Pada seusia ini, rata-rata kita dapat berfikir dengan jernih, lebih gigih dan mempunyai stamina yang kuat. Alasannya seorang wartawan pemula itu, lebih muda, lebih produktif ketimbang wartawan pemula yang berusia diatas 25 tahun.

Wartawan Kampus

Dunia mahasiswa adalah dunia yang paling banyak dengan isu-isu menarik, baik dari segi pendidikan, pergaulan dan perpolitikan. Untuk itu, sebuah media informasi dirasakan sangat penting dalam kehidupan kampus ini. Di universitas-universitas terkemuka di luar maupun didalam negeri, pers kampus menjadi sebuah profesi yang banyak digemari oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai jurusan ilmu.

Di negara-negara maju, seperti Amerika dan Inggris, masyarakatnya sangat tergantung dengan media. Bahkan Libya atau pun negerinya Fidel Castro (Cuba), media merupakan salah satu nyawa bagi masyarakatnya. Fidel Castro dan kawan-kawan sendiri yang melakukan chaos pada tahun 1948 terlebih dahulu menguasai media informasi untuk menyemangati dan menginformasikan adanya revolusi di tubuh pemerintahan mereka kepada publik.

Untuk Indonesia saja, terkadang satu Universitas itu mempunyai lebih dari satu media kampus. Meskipun kebanyakan media-media kampus tersebut bersifat sebagai media komunitas ataupun corong informasi bagi beberapa kelompok mahasiswa. Di Aceh, media kampus tumbuh dengan pesat pasca tsunami. Sebut saja misalnya, Sumber Post, DETaK, Lentera, Perspektif, Cakra, Skeleton, Warta Unsyiah, Meupakat dan beberapa media kecil lainnya. Meskipun proses penerbitan banyak yang jatuh bangun dan pemberitaan yang kurang menarik. Akan tetapi ini adalah sebuah kemajuan dimana mahasiswa selaku calon-calon yang akan menggeluti panggung permainan hidup kedepan, telah menyadari arti pentingnya sebuah media informasi. Tentunya dengan berkembangnya media-media ini, wartawan yang diperlukan pun menjadi bertambah.

Mahasiswa yang sadar akan pentingnya media ataupun bekal jurnalistik, sekarang mulai mencari komunitas-komunitas yang bergerak dibidang tersebut. Bila kita melihat pegiat-pegiat atau tokoh-tokoh Indonesia maupun daerah, kebanyakan dulunya adalah wartawan, baik yang sifatnya komunitas seperti media kampus maupun yang berprofesi sebagai wartawan untuk media daerah.

Wartawan merupakan individu yang menyajikan berita, mempunyai sisi menarik tersendiri. Banyak “kuli tinta” menganggap profesinya adalah sebuah perbuatan yang mulia, pasalnya mereka selalu membuka mata bagi masyarakat untuk melihat dunia dan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Namun, banyak pula masyarakat atau orang-orang tertentu yang sering menuduh wartawan sebagai pemancing kerusuhan. Itu semua mempunyai sisi penilaian tersendiri.

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang berbeda latar belakang ilmu, tidak perlu merasa canggung untuk menjadi seorang wartawan, apalagi sekedar wartawan di dunia kampus. Menjadi wartawan kampus tidaklah sulit. Rumusnya hanya satu, yaitu adanya kemauan dan keyakinan. []

Note:

Penulis adalah seorang wartawan kampus yang pernah aktif di Tabloid DETaK sebagai Pimpinan Umum, di CAKRA sebagai Ketua Umum, Syedara (media komunitas FKPI), Aceh Kita, Ceureumen dan kini sedang menjadi wartawan training di Harian Aceh.